BRMP NTB Perkuat Sinergi Penyuluh dan Daerah Percepat Implementasi PM-AAS di Sumbawa Barat
Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Nusa Tenggara Barat terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah dalam mempercepat implementasi Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) sebagai salah satu program strategis Kementerian Pertanian. Upaya tersebut diwujudkan melalui Training of Trainers (TOT) PM-AAS bagi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).
Mewakili Kepala BRMP NTB, Kepala Bagian Tata Usaha Muhammad Yasin menyampaikan bahwa berbagai program strategis Kementerian Pertanian perlu terus dioptimalkan untuk mempertahankan capaian swasembada pangan nasional. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penerapan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS), sebuah inovasi budidaya padi yang mengintegrasikan sistem tanam benih langsung (Tabela) dengan pola tanam Jajar Legowo (Jarwo) sehingga lebih efisien dan dapat disesuaikan dengan kondisi spesifik lokasi. Menurutnya, Provinsi Nusa Tenggara Barat menjadi salah satu dari 15 provinsi yang dipercaya mengembangkan PM-AAS melalui kawasan percontohan seluas 100 hektare di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Keberhasilan implementasi di lokasi tersebut diharapkan menjadi model pengembangan PM-AAS di berbagai daerah dalam mendukung swasembada pangan yang berkelanjutan.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa Barat, Jamillah, menegaskan bahwa keberhasilan implementasi PM-AAS membutuhkan sinergi yang kuat antara penyuluh pertanian dan pemerintah daerah. Menurutnya, penyuluh memiliki peran strategis sebagai ujung tombak dalam mendiseminasikan inovasi dan teknologi pertanian kepada petani. Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat berkomitmen mendukung pelaksanaan PM-AAS melalui kolaborasi lintas bidang serta berbagai dukungan yang diperlukan di lapangan agar target pengembangan PM-AAS dapat tercapai. Ia juga mengajak seluruh penyuluh untuk terus memperkuat koordinasi dengan Dinas Pertanian guna mempercepat implementasi PM-AAS dan mendukung terwujudnya swasembada pangan berkelanjutan.
Selama pelatihan, peserta memperoleh pembekalan mengenai konsep PM-AAS, strategi penerapan di lapangan, penyusunan CPCL, mekanisme pelaporan, hingga evaluasi perkembangan program. Pengalaman implementasi PM-AAS di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, juga dibagikan sebagai referensi bagi penyuluh dalam mengantisipasi tantangan sekaligus mempercepat adopsi teknologi di wilayah masing-masing.
Melalui penguatan kapasitas dan sinergi lintas sektor ini, BRMP NTB berharap penyuluh mampu menjadi penggerak modernisasi pertanian di tingkat lapangan sehingga implementasi PM-AAS semakin luas, produktivitas padi meningkat, dan target swasembada pangan berkelanjutan dapat diwujudkan